Ramadhan 1435 H, Ramadhan pertama saya di Jogja, kota yang sangat istimewa, kota yang menjadi pilihan saya untuk menjadi kepingan puzzel kehidupan saya. 28 Juni 2014 saya memulai puasa pertama, dimana malam sebelumnya saya melaksanakan taraweh berjama'ah di Masjid Gede, Kauman. "Puasa itu.., sekolah tanpa ijazah, kuliah tanpa wisuda" itulah cuplikan kultum dari kyai yang mengisi ceramah sebelum shalat taraweh. Selesainya shalat taraweh, saya mendapat kesempatan dari Allah, untuk menjadi saksi langsung dua orang saudara yang akan masuk islam. Dua orang, satu laki-laki, dan satu lagi perempuan. Berawal dari agama katolik dan dengan sadar dan ikhlas melangkah masuk islam dan menjadi saudara kita. "Ketika saya bertemu islam kembali, saya merasakan lagi hawa kedamaian yang selama ini saya inginkan" kata yang laki-laki. "Karena menurut saya, islam lah agama yang paling logis" kata yang perempuan.
selamat datang saudariku, kalian tepat, kalian tidak salah pilih, semoga Allah memberkahi kita semua, kita sama-sama, saling ingat mengingatkan dalam kebaikan.
Sebagaimana halnya seorang mahasiswa, berbuka puasa dengan yang gratis, dimasjid aja, sekalian sholat taraweh berjamaah keliling masjid se-Yogjakarta. Saya pernah sholat taraweh disalah satu masjid penduduk di sebuah dusun di Jogja, alangkah kagetnya saya ketika mendengar ceramah agama sebelum shalat taraweh, berbahasa jawa, yaaah, namanya juga kota jawa, saya memaklumi itu, tapi saya lebih kaget lagi ketika sang imam memimpin sholat taraweh, semua bacaan berubah menjadi logat jawa, medok. *silahkan dibayangkan
Itulah mahasiswa, jikalau ada ta'jil sisa, akan diminta untuk makan saur keesokan harinya. Lucu memang, tapi saya yakin, setiap yang pernah menjadi mahasiswa merasakan hal yang sama, dan itulah yang menjadi moment unik menjadi seorang mahasiswa. Semua bukber saya ikuti, bukber lintas kota, sejauh apapun, pasti datang, selain agar dapat makanan gratis, sekalian juga menyambung tali silaturahmi.
Saya menemukan inilah Ramadhan di Jogja, siang saya berpergian, jalanan sepi, layaknya Jogja berpenduduk sedikit, biasanya jika saya lama menstarter motor ketika lampu hijau menyala langsung ada mengklakson saya dari belakang, tapi siang itu tidak. Ketika sore datang menjelang, 20-10 menit menuju berbuka puasa, penduduk Jogja yang hilang itu seperti datang kembali entah darimana asalnya, jalanan menjadi padat tak terkira, macet dimana-mana, bahkan saking terjebak macetnya, saya pernah berbuka puasa dijalan dan beruntung saya membawa air minum untuk menyegrakan berbuka.
Itulah Ramadhan saya pertama di Jogja, sebenarnya banyak hal menarik yang terjadi didalamya, hanya saja saya susah mengungkapkannya dengan kata-kata. Terakhir, selamat berpuasa semua..


No comments:
Post a Comment