Thursday, June 26, 2014

Ramadhan Datang

Gak nyangka, ramadhan datang, udah persiapin apa aja yaa? ya Allah, semoga ini menjadi Ramadhan terbaik dihidup kita..

"Sang Pencerah" Movie Resume



‘Sang Pencerah’ is a movie created by Hanung Bramantyo. This movie based on a true story about Kyai Haji Ahmad Dahlan. The story begins when Darwis (Little Kid Name of Ahmad Dahlan) want to go to Makkah for study. At that time, he was 15 years old, still young. Abu Bakar (Ahmad Dahlan’s Father) gives his permission to Darwis to go to Makkah for study. Five years later, Darwis comes back to Yogyakarta. Darwis changes his name become Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan becomes so smart and clever, he also capable playing violin. Sometimes when he goes to Kauman Mosque, he looks at the compass, and how shocked he is, because the ‘kiblat’ or pray direction is wrong, not looked towards Ka’bah in Makkah, but looked towards Afrika. So to change it to look towards to Ka’bah in Makkah, it should shift to the right 23ยบ from the first position. Ahmad Dahlan so struggle to assure everyone about it. Until Kyai Cholil Kamaludiningrat getting angrier and every one says that Ahmad Dahlan is Kafir. After his father dies, he becomes Kyai in Kauman Big Mosque substituting his father (Abu Bakar) on 1869. Ahmad Dahlan expert in playing violin, so he is reputed controversial. Ahmad Dahlan also accused kafir because he open a school that put his student in the Dutch modern school, Ahmad Dahlan also teaches islamic religion in Kweekschool or noble’s school in Jetis, Yogyakarta. Ahmad Dahlan also joined with Boedi Utomo on 1809.
 In this movie, we can look that Ahmad Dahlan very strong to maintain Islam in Indonesia, not only in the mosque as like as another Kyai, but also in education and Indonesia’s liberty movement (Boedi Utomo). So on 12 November 1902, Ahmad Dahlan makes a declaration that Muhammadiyah was born on that date. Muhammadiyah not a religion, there is no purpose in Muhammadiyah to spread self religion confidence. There are some quotes that I like from this movie. First is when Ahmad Dahlan’s student asks about religion? Then Ahmad Dahlan plays the violin and said that religion is beautiful, peaceful, tranquillity, bright and clear, because religion’s essence is such as a music. If we do not study carefully it, it will make fidgety around us and becomes an object of ridicule. Second is “Justification only from Allah, human just can endeavor (ikhtiar)”. Third is “Islam more and more far from itself (muslim), because they comprehend it in a superficial manner”. After I watch this movie, I say to myself, what have you do for Islam? Have you make any struggle as like as Ahmad Dahlan? It becomes my motivation for myself

Monday, June 23, 2014

Lembaga Filantropi Muhammadiyah Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah



Metode wawancara tidak hanya dilakukan secara langsung, tapi juga bisa secara tidak langsung, sebagai contoh adalah metode yang saya ambil sekarang, yaitu melalui telpon seluler. Melakukan wawancara tidak terstruktur ini tidak mempergunakan daftar pertanyaan yang dipersiapkan sebelumnya, sehingga saya dapat memberikan pertanyaan sesuai dengan keperluan yang sedang dihadapi pada saat wawancara, dan mengarahkannya pada fokus tulisan. Selama wawancara, selain menanyakan yang mengarah pada fokus, juga mengajukan pertanyaan bebas dan mendalam, dengan tujuan untuk memperdalam hal-hal yang dianggap penting. Pertanyaan yang digunakan sifatnya spontan pada saat wawancara berlangsung. Pertanyaan bebas ini  dilakukan, untuk dapat memperjelas hal-hal yang dianggap masih belum begitu jelas. Adapun subyek yang  diwawancarai dalam tulisan ini adalah Wakil Ketua Muhammadiyah Kabupaten Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

            Bapak Arliansyah, begitulah sapaan sehari-hari beliau, beliau menjabat sebagai Wakil Ketua Muhammadiyah selama tiga periode, sejak tahun 2000-2015, dimana sebelumnya beliau sudah aktif dalam pergerakan Muhammadiyah sejak remaja, menjadi Ketua Ikatan Pemuda Muhammadiyah, Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ketua Majlis Pendidikan, dan saat ini Wakil Ketua Muhammadiyah daerah. Sebelum berlanjut kedalam lembaga filantropi Muhammadiyah, saya akan menerangkan terlebih dahulu awal mula berdirinya Muhammadiyah di Kabupaten Pangkalan Bun. Muhammadiyah di Pangkalan Bun tidak lepas dari peran para aktivis-aktivis Muhammadiyah yang berasal dari Yogyakarta. Mereka datang dan bertemu penduduk, saat itu ada Abdul Muis (alm) dan Abdul Kadir (alm), dimana Muhammadiyah awalnya hanyalah bersifat perorangan saja, tapi karena mereka merasa memiliki visi misi yang sama, akhirnya pada tahun 1980 didirikanlah Organisasi Muhammadiyah secara resmi di Pangkalan Bun.
Tantangan terbesar saat awal berdirinya Muhammadiyah di Pangkalan Bun tidak jauh berbeda sebagaimana di daerah Kauman, Yogyakarta. Penduduk menganggap bahwa Muhammadiyah adalah ajaran sesat. Tahun 1995 Muhammadiyah mulai diterima baik oleh masyarakat dengan didirikannya lembaga pendidikan Muhammadiyah berupa SMP Muhammadiyah. Hanya saja, yang menjadi persoalan pada saat itu, walaupun sudah diterima, tetapi tantangan berasal dari dalam, dimana anggota-anggota Muhammadiyah masih bersifat abangan, hanya mengenal Muhammadiyah, tapi sikap dan amal ibadahnya tidak menunjukkan sebagai anggota Muhammadiyah.
Lembaga filantropi sendiri sebenarnya sudah ada sejak lama, hanya seja belum resmi berdiri. Sebelumnya resmi, lembaga filantropi Muhammadiyah hanya dilakukan dimasjid dan sebatas saat menjelang idul fitri saja. Tahun 2005-2010, lembaga ini resmi berdiri, seperti halnya lembaga filantropi Muhammadiyah lainnya, lembaga filantropi Muhammadiyah di Pangkalan Bun diberi nama LAZISMU (Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah). Hanya saja pada periode itu, LAZISMU tidak terkoordinir dengan baik, belum profesional dan belum transfaran. Karena masih kekurangan petugas dan hanya ditangani langsung oleh pimpinan Muhammadiyah setempat. Sejak tahun 2010-sekarang, LAZISMU sudah terkoordinir dengan baik, perofesional dan transfaran. Bahkan LAZISMU Pangkalan Bun sudah menyediakan beasiswa untuk para anggota Muhammadiyah, baik anggota permanen, partisipan, kader, ataupun anggota biasa.
Organisasi Muhammadiyah di Pangkalan Bun lebih berkembang pesat dibandingkan didaerah-daerah lain di Provinsi Kalimantan Tengah, seperti Kotawaringin Timur, Lamandau, atau Sukamara. Kenapa? Karena kinerja SDM yang sudah sangat baik, mempunyai rasa memiliki terhadap Muhammadiyah, kompak, dan tersebar kebeberapa tempat didaerah Pangkalan Bun. Yang menjadi tantangan saat ini bagi Muhammadiyah daerah Pangkalan Bun (jika ingin dikatakan tantangan) adalah kursi pemerintahan, termasuk didalamnya Bupati daerah Pangkalan Bun, karena bupati bukan berasal dari Muhammadiyah, sehingga ketika pembagian APBD, Muhammadiyah hanya mendapat bagian porsi sedikit dibandingkan dengan Organisasi islam yang lain, padahal Muhammadiyah memiliki kegiatan lebih banyak dibandingkan Organisasi islam lainnya.

Ridder Orde Van Oranje Nassau



Ridder Orde Van Oranje is the appreciation title from Dutch Colonial means merit sign star for one of personage Muhammadiyah, he is Kyai Haji Hisyam. He was valued deserving well of Indonesia society in education development. In Kyai Haji Hisyam period, Muhammadiyah has so fast developing, in the end of 1932, Muhammadiyah has 103 Volkschool, 47 Standaardschool, 69 Hollands Inlandse School (HIS), and 25 Schakelschool, that is a five years school that will devotail to MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, equivalent with Junior High School today) from the student who graduate from Vervolgschool or Standaardschool class V. All that Muhammadiyah school use dutch language as the introduction language. Muhammadiyah school on that era being education institute for autochthonous that can compete with dutch school developing, Katolik, and Protestan school.
            Kyai Haji Hisyam was born in Kauman Yogyakarta on 10 November 1883 and died on 20 Mei 1945. Even he did not fell the liberty days on 17 Agustus 1945, he has many contribution for Indonesia freedom. He is the third leader of Muhammadiyah. He was chose and established as the leader of Muhammadiyah in the 23 Muhammadiyah congress at Yogyakarta 1934. He is one of K.H. Ahmad Dahlan direct student, and also prominent abdi dalem Ngayogyakarta Hadiningrat. On 1935, he was chose again as the leader of Muhammadiyah in the 24 Muhammadiyah congress at Banjarmasin. In the 25 Muhammadiyah congress at Batavia (Jakarta), he was chose again as the leader of Muhammadiyah. Just three times he taken hold of Muhammadiyah leader.
            In Kyai Haji Hisyam period, the orderliness of administration and management are good. He is more focuse in education and teaching developing, not only religion education but also public education such as in dutch school. It can be seen from his children education. Two his sons studied being a teacher, called a bevoegd and be a teacher in HIS Met de Qur’an Muhammadiyah Kudus and Yogyakarta. One of his son graduate from Hogere Kweekschool in Purworejo, and one his son graduate from Europese Kweekschool in Surabaya. Both of school were built by Dutch colonial government for the next teacher who will teach in HIS Gubernemen.
            In Kyai Haji Hisyam period, Muhammadiyah has open the elementary school three years (volkschool or vilage school) after manner of rules and regulations such as in volkschool gubernemen. After it, was open also Muhammadiyah vervolgschool as the continuance. That is the reason why after it many Muhammadiyah volkschool and vervolgschool in Indonesia, especially Jawa. When Dutch colonial government open standaardschool, that is six years school, Muhammadiyah also open a school like it to. Moreover, Muhammadiyah was build Muhammadiyah Hollands Inlandsche School Met de Qur’an for make a compete or effort as like as Katolik society that was built Hollands Inlandsche School Met de Bijbel.
            Kyai Haji Hisyam always thinks about how Muhammadiyah education not defeated from Dutch colonial government education. He thinks in order that autochthonous if want study not only must go to Dutch colonial government school, Indonesia also have school for study. Even it should fulfill many difficult rules and regulations, in the end Muhammadiyah school got confession and similarity from Dutch colonial government.
            In developing of Muhammadiyah education, Kyai Haji Hisyam make a cooperation with Dutch colonial government that Muhammadiyah prepared get financial assistance from Dutch colonial government, even the total just a little and not equal with government helping to Kristen schools at that time. From that case is the reason Kyai Haji Hasyim and Muhammadiyah get a poignant stricture from Taman Siswa and Syarikat Islam at that time leveled against non-cooperative politics. However, Kyai Haji Hisyam has a mind of own that government subsidy is the tax that was took from Indonesia society, especially Islam society. With that subsidy, Muhammadiyah can use it for develop Muhammadiyah education that in the end also can develop and brought up Indonesia. Accept that subsidy is better than refuse, because if that subsidy refusing, so that subsidy will be shift to the Dutch colonial government school and only make a strong Dutch colonialisme position.
            We can take the conclution and lesson from this Muhammadiyah personage. Kyai Haji Hisyam has an amazing dream and big effort to make Indonesia better, to make Indonesia did not defeated from Dutch colonial government. He focuses in one case, education. From that focus, he gets the appreciation from Dutch colonial government. He has a good knowladge in religion, religion is the pondation for any things in our life.

Tuesday, June 3, 2014

Muncak diatas Prau-Dieng

Pengalaman pertama muncak diatas gunung. Gunung Prau, terletak di kabupaten Dieng, dengan tinggi 2565 MDPL.


Persiapan yang dibawa lengkap, apalagi makanan, bisa buka indomaret digunung, haha. Kita ada delapan orang, dan saya cewe sendiri, gak papa, lumayan lah, tenda dibuatin, tas dibawain, tapi emang sih, ngerepotin, soalnya banyak berhentinya sepanjang trek. Jadi mereka harus nungguin saya. Tapi ya nama juga pengalaman pertama muncak, jadi banyak istirahatnya, rasanya capek banget. Berangkat jan setengah sepuluh malam, nyampe jam setengah satu di puncaknya, kerasa dingin banget. Singkat cerita, pas pagi-pagi mau sholat subuh, rasa capek dan dingin, hilang seketika, liat pemandangan yang luar biasa indah, huaaa..., sholat diatas gunung, rasanya indaaaah banget, serasa dekat dengan Tuhan.








tafakkur alam, betapa indahnya Allah menciptakan bumi ini, dan kita sebagai manusia, jangan sekali-kali merusaknya..
what is the next mountain??

ASEAN Economic Community

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 22-25 Mei 2014, saya mengikuti ASEAN Economic Community Global Forum 2014 di Kuala Lumpul, berbekal pengetahuan ASEAN Community dan dukungan dari Universitas, saya pergi dan mengikuti seluruh rangkaian acara disana. Dengan tema:
"The ideas and real actions of ASEAN young leaders to support ASEAN economic community 2015"
Setiap delegasi mempunyai action plan masing-masing, termasuk saya. Action plan saya ini datang ketika saya mengikuti seminar nasional tentang strategi Indonesia agar tidak kalah dalam AEC 2015 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dengan pembicara langsung dari mantan Menko Perekonomian Indonesia , Bapak Hatta Radjasa. Ketika beliau menyampaikan materinya, ada satu hal yang sangat menarik bagi saya, ketika beliau berkata bahwa agar Indonesia menang dalam AEC 2015, kita harus mempunyai (salah satunya) inovasi yang besar. Selesai materi, seperti biasa ada sesi tanya jawab, dengan penuh semangat saya mengacungkan tangan, dan saya beruntung mendapatkan kesempatan langsung bertanya dengan beliau. Yang saya tanyakan adalah, jika berbicara tentang inovasi, yang mengerti hanyalah kalangan sarjana dan yang berpendidikan, bagaimana dengan masyarakat yang berada didaerah terpencil, yang jangankan menjalankan inovasi, arti dari kata inovasi pun mereka belum mengerti. Mengapa saya berkata seperti ini? karena saya berasal dari daerah terpencil disalah satu sudut kalimantan. Saya pernah menanyakan hal ini pada beberapa masyarakat disana, dan mereka tidak tau apa itu AEC 2015. Hati saya sangat tergerak, karena mereka harus tau hal ini, terlebih, didaerah-daerah terpencil banyak menyimpan kekayaan alam, sebagai contoh adalah tempat dimana saya berasal, disana mempunyai banyak kekayaan alam laut (maritime wealth), atau Pulau Natuna, yang mempunyai cadangan gas terbesar didunia, walau memang sudah banyak dikuasai asing, tapi bukanlah hal yang terlambat, jika kita manfaatkan moment ini (AEC 2015), untuk membuat banyak pembaharuan ekonomi. Dari pertanyaan saya tadi, beliau menjawab (Pak Hatta Radjasa), bahwa untuk memberdayakan atau mensosialisasikan AEC 2015 ini adalah salah satu tugas anda seorang mahasiswa sebagai penggerak perubahan. Maka atas dasar itulah saya membuat action plan saya untuk Indonesia dengan judul 3W "we care, we share, we do together", judul yang sudah sangat biasa, tapi sedikit yang memberikan arti. 3W adalah sebuah action yang hanya berfokus pada daerah-daerah terpencil, dimana didalamnya terdapat sosialisasi, diskusi dan pelatihan yang ditangani langsung oleh orang-orang yang ahli dibidangnya. Sebuah action yang memang tidak mudah menjalankannya, butuh kesadaran penuh, perjuangan dan kerja keras, saya sadar akan hal itu. Yang pasti, semuanya harus diniatkatkan untuk kemajuan bangsa. 


Dari acara yang saya ikuti kemaren di Kuala Lumpur, semakin tergerak rasanya untuk mewujudkan action plan ini. Bagi para pembaca yang sudah membaca ini, saya ucapkan terima kasih, mohon do'a dan dukungannya. Jika tertarik ingin ikut bergabung atau ada pertanyaan lebih, silahkan kontak saya via email: alrhastyle@yahoo.com

Terima Kasih :-)