Monday, June 23, 2014

Lembaga Filantropi Muhammadiyah Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah



Metode wawancara tidak hanya dilakukan secara langsung, tapi juga bisa secara tidak langsung, sebagai contoh adalah metode yang saya ambil sekarang, yaitu melalui telpon seluler. Melakukan wawancara tidak terstruktur ini tidak mempergunakan daftar pertanyaan yang dipersiapkan sebelumnya, sehingga saya dapat memberikan pertanyaan sesuai dengan keperluan yang sedang dihadapi pada saat wawancara, dan mengarahkannya pada fokus tulisan. Selama wawancara, selain menanyakan yang mengarah pada fokus, juga mengajukan pertanyaan bebas dan mendalam, dengan tujuan untuk memperdalam hal-hal yang dianggap penting. Pertanyaan yang digunakan sifatnya spontan pada saat wawancara berlangsung. Pertanyaan bebas ini  dilakukan, untuk dapat memperjelas hal-hal yang dianggap masih belum begitu jelas. Adapun subyek yang  diwawancarai dalam tulisan ini adalah Wakil Ketua Muhammadiyah Kabupaten Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

            Bapak Arliansyah, begitulah sapaan sehari-hari beliau, beliau menjabat sebagai Wakil Ketua Muhammadiyah selama tiga periode, sejak tahun 2000-2015, dimana sebelumnya beliau sudah aktif dalam pergerakan Muhammadiyah sejak remaja, menjadi Ketua Ikatan Pemuda Muhammadiyah, Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ketua Majlis Pendidikan, dan saat ini Wakil Ketua Muhammadiyah daerah. Sebelum berlanjut kedalam lembaga filantropi Muhammadiyah, saya akan menerangkan terlebih dahulu awal mula berdirinya Muhammadiyah di Kabupaten Pangkalan Bun. Muhammadiyah di Pangkalan Bun tidak lepas dari peran para aktivis-aktivis Muhammadiyah yang berasal dari Yogyakarta. Mereka datang dan bertemu penduduk, saat itu ada Abdul Muis (alm) dan Abdul Kadir (alm), dimana Muhammadiyah awalnya hanyalah bersifat perorangan saja, tapi karena mereka merasa memiliki visi misi yang sama, akhirnya pada tahun 1980 didirikanlah Organisasi Muhammadiyah secara resmi di Pangkalan Bun.
Tantangan terbesar saat awal berdirinya Muhammadiyah di Pangkalan Bun tidak jauh berbeda sebagaimana di daerah Kauman, Yogyakarta. Penduduk menganggap bahwa Muhammadiyah adalah ajaran sesat. Tahun 1995 Muhammadiyah mulai diterima baik oleh masyarakat dengan didirikannya lembaga pendidikan Muhammadiyah berupa SMP Muhammadiyah. Hanya saja, yang menjadi persoalan pada saat itu, walaupun sudah diterima, tetapi tantangan berasal dari dalam, dimana anggota-anggota Muhammadiyah masih bersifat abangan, hanya mengenal Muhammadiyah, tapi sikap dan amal ibadahnya tidak menunjukkan sebagai anggota Muhammadiyah.
Lembaga filantropi sendiri sebenarnya sudah ada sejak lama, hanya seja belum resmi berdiri. Sebelumnya resmi, lembaga filantropi Muhammadiyah hanya dilakukan dimasjid dan sebatas saat menjelang idul fitri saja. Tahun 2005-2010, lembaga ini resmi berdiri, seperti halnya lembaga filantropi Muhammadiyah lainnya, lembaga filantropi Muhammadiyah di Pangkalan Bun diberi nama LAZISMU (Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah). Hanya saja pada periode itu, LAZISMU tidak terkoordinir dengan baik, belum profesional dan belum transfaran. Karena masih kekurangan petugas dan hanya ditangani langsung oleh pimpinan Muhammadiyah setempat. Sejak tahun 2010-sekarang, LAZISMU sudah terkoordinir dengan baik, perofesional dan transfaran. Bahkan LAZISMU Pangkalan Bun sudah menyediakan beasiswa untuk para anggota Muhammadiyah, baik anggota permanen, partisipan, kader, ataupun anggota biasa.
Organisasi Muhammadiyah di Pangkalan Bun lebih berkembang pesat dibandingkan didaerah-daerah lain di Provinsi Kalimantan Tengah, seperti Kotawaringin Timur, Lamandau, atau Sukamara. Kenapa? Karena kinerja SDM yang sudah sangat baik, mempunyai rasa memiliki terhadap Muhammadiyah, kompak, dan tersebar kebeberapa tempat didaerah Pangkalan Bun. Yang menjadi tantangan saat ini bagi Muhammadiyah daerah Pangkalan Bun (jika ingin dikatakan tantangan) adalah kursi pemerintahan, termasuk didalamnya Bupati daerah Pangkalan Bun, karena bupati bukan berasal dari Muhammadiyah, sehingga ketika pembagian APBD, Muhammadiyah hanya mendapat bagian porsi sedikit dibandingkan dengan Organisasi islam yang lain, padahal Muhammadiyah memiliki kegiatan lebih banyak dibandingkan Organisasi islam lainnya.

No comments:

Post a Comment