Metode wawancara tidak hanya dilakukan
secara langsung, tapi juga bisa secara tidak langsung, sebagai contoh adalah
metode yang saya ambil sekarang, yaitu melalui telpon seluler. Melakukan wawancara tidak terstruktur ini tidak mempergunakan
daftar pertanyaan yang dipersiapkan sebelumnya, sehingga saya dapat memberikan
pertanyaan sesuai dengan keperluan yang sedang dihadapi pada saat wawancara,
dan mengarahkannya pada fokus tulisan. Selama wawancara, selain menanyakan yang mengarah
pada fokus, juga mengajukan pertanyaan bebas dan mendalam, dengan tujuan untuk
memperdalam hal-hal yang dianggap penting. Pertanyaan yang
digunakan sifatnya spontan pada saat wawancara berlangsung. Pertanyaan bebas
ini dilakukan, untuk dapat memperjelas
hal-hal yang dianggap masih belum begitu jelas. Adapun subyek yang diwawancarai
dalam tulisan ini adalah Wakil Ketua Muhammadiyah Kabupaten Pangkalan Bun,
Kalimantan Tengah.
Bapak Arliansyah, begitulah sapaan
sehari-hari beliau, beliau menjabat sebagai Wakil Ketua Muhammadiyah selama
tiga periode, sejak tahun 2000-2015, dimana sebelumnya beliau sudah aktif dalam
pergerakan Muhammadiyah sejak remaja, menjadi Ketua Ikatan Pemuda Muhammadiyah,
Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ketua Majlis Pendidikan, dan saat ini
Wakil Ketua Muhammadiyah daerah. Sebelum berlanjut kedalam lembaga filantropi
Muhammadiyah, saya akan menerangkan terlebih dahulu awal mula berdirinya
Muhammadiyah di Kabupaten Pangkalan Bun. Muhammadiyah di Pangkalan Bun tidak
lepas dari peran para aktivis-aktivis Muhammadiyah yang berasal dari
Yogyakarta. Mereka datang dan bertemu penduduk, saat itu ada Abdul Muis (alm)
dan Abdul Kadir (alm), dimana Muhammadiyah awalnya hanyalah bersifat perorangan
saja, tapi karena mereka merasa memiliki visi misi yang sama, akhirnya pada
tahun 1980 didirikanlah Organisasi Muhammadiyah secara resmi di Pangkalan Bun.
Tantangan terbesar
saat awal berdirinya Muhammadiyah di Pangkalan Bun tidak jauh berbeda
sebagaimana di daerah Kauman, Yogyakarta. Penduduk menganggap bahwa
Muhammadiyah adalah ajaran sesat. Tahun 1995 Muhammadiyah mulai diterima baik
oleh masyarakat dengan didirikannya lembaga pendidikan Muhammadiyah berupa SMP
Muhammadiyah. Hanya saja, yang menjadi persoalan pada saat itu, walaupun sudah
diterima, tetapi tantangan berasal dari dalam, dimana anggota-anggota
Muhammadiyah masih bersifat abangan, hanya mengenal Muhammadiyah, tapi sikap
dan amal ibadahnya tidak menunjukkan sebagai anggota Muhammadiyah.
Lembaga filantropi
sendiri sebenarnya sudah ada sejak lama, hanya seja belum resmi berdiri.
Sebelumnya resmi, lembaga filantropi Muhammadiyah hanya dilakukan dimasjid dan
sebatas saat menjelang idul fitri saja. Tahun 2005-2010, lembaga ini resmi
berdiri, seperti halnya lembaga filantropi Muhammadiyah lainnya, lembaga
filantropi Muhammadiyah di Pangkalan Bun diberi nama LAZISMU (Lembaga Zakat Infaq
dan Shadaqah Muhammadiyah). Hanya saja pada periode itu, LAZISMU tidak
terkoordinir dengan baik, belum profesional dan belum transfaran. Karena masih
kekurangan petugas dan hanya ditangani langsung oleh pimpinan Muhammadiyah
setempat. Sejak tahun 2010-sekarang, LAZISMU sudah terkoordinir dengan baik,
perofesional dan transfaran. Bahkan LAZISMU Pangkalan Bun sudah menyediakan
beasiswa untuk para anggota Muhammadiyah, baik anggota permanen, partisipan,
kader, ataupun anggota biasa.
Organisasi
Muhammadiyah di Pangkalan Bun lebih berkembang pesat dibandingkan
didaerah-daerah lain di Provinsi Kalimantan Tengah, seperti Kotawaringin Timur,
Lamandau, atau Sukamara. Kenapa? Karena kinerja SDM yang sudah sangat baik,
mempunyai rasa memiliki terhadap Muhammadiyah, kompak, dan tersebar kebeberapa
tempat didaerah Pangkalan Bun. Yang menjadi tantangan saat ini bagi
Muhammadiyah daerah Pangkalan Bun (jika ingin dikatakan tantangan) adalah kursi
pemerintahan, termasuk didalamnya Bupati daerah Pangkalan Bun, karena bupati
bukan berasal dari Muhammadiyah, sehingga ketika pembagian APBD, Muhammadiyah
hanya mendapat bagian porsi sedikit dibandingkan dengan Organisasi islam yang lain,
padahal Muhammadiyah memiliki kegiatan lebih banyak dibandingkan Organisasi islam lainnya.

No comments:
Post a Comment