Wednesday, November 19, 2014

Mahasiswa dan kenaikan BBM

Disana sini ribut kenaikan BBM. Ada yang pro, ada yang kontra, ada juga yang tidak tau menau tentang kenaikan ini. Salah satu dosen saya berkata bahwa dalam menentukan kebijakan, Pemerintah mestinya tidak hanya memikirkan sisi ekonomi, tapi juga sisi sosial masyarakat. Tapi bagi saya, jika melihat kondisi masyarakat saat ini, tidak hanya kedua sisi itu saja yang ada, tapi juga sisi psikologis. Masih tertanam dan terpendam rasa saling tidak suka dan menjatuhkan ketika Pilpres kemaren. Yaah, seperti yang kita tau, kemenangan kubu Indonesia hebat pun penuh dengan gugatan, kemenangan yang tidak transparan, jadi pantas saja bagi saya, jika saat ini masyarakat masih di geluti hati dan pikirannya dengan hal itu. Tanpa berpihak kepada siapa pun, sepertinya, apa pun kebijakan yang dikeluarkan oleh bapak Presiden, bakal selalu ada kontra dimana mana. 
Sejak hari dimana BBM dinaikkan, antrean SPBU memanjang sangat dan aksi dari berbagai organisasi dan pergerakan berkelanjutan hingga saat ini. Itu hak setiap orang yang akan melaksanakan demo atau aksi, karena setiap manusia mempunyai jalan pikir yang berbeda-beda. Tapi satu hal yang saya tidak suka, kelakuan anarkisme mahasiswa, ayolah, mahasiswa adalah kaum terdidik dan bermoral. Jangan sampai mahasiswa justru dibenci masyarakat, karna seharusnya mahasiswa lah yang menjadi contoh dan penyambung lidah masyarakat, bukan malah membuat rusuh, rusak sana sini, dan menakuti masyarakat. Saya senang dengan mahasiswa yang bertindak damai tapi tegas, menggunakan akal, ilmu dan taktik yang pas. 
Untuk kenaikan BBM saat ini, kita lihat dulu kinerja pemerintahan baru ini, kita kawal jalan kerja mereka, jika apa yang dikatakan mereka tentang pengalihan subsidi ini bertentangan dengan yang dijanjikan, maka langsung kita tuntut mereka. Kita lihat tiga sampai enam bulan kedepan, perhatikan dan saksikan. Ada satu saja yang tidak tepat sasaran, langsung kita tuntut. Karena apa? Karena jika sikap kita yang selalu negative thinking, pemerintahan tidak akan maju dan berkerja untuk membangun Indonesia. Step by step tapi pasti. Apalagi yang saat ini status nya masih pelajar atau mahasiswa, lakukan saja dulu tugas utama sebagai pelajar dan mahasiswa, kita boleh punya pikiran yang kritis dan semangat yang membara, tapi ingat kita pun belum banyak menjalani manis pahitnya kehidupan. So, stay positive and do the best thing for Indonesia.

Salam hormat dari kota pelajar

Thursday, October 16, 2014

Consumer Preference and Utility



A consumer’s preference change and so can consumer decides to maximize utility at a lower price level. For this purpose, any consumer prefers to have a number of options. Such preferences and choices are the subject matter of this chapter.
Any consumer preference has two important relation. This strict and weak preference relation decides the overall preference. This strit preference relation is defided as
X > y à x ≥ y but y ≥ x
This means x is preferred to y. here, y is also considered to be equal to x. The consumer can either prefer x or y. what consumer’s fell is depends on perception of such good. The indifference relation is defined as the tilde and it means approximately.
X ~ y à x ≥ y and y ≥ x
In other words, x is indifferent to y; alternatively, x and y are the same order of magnitude. A consumer will always try to maximize their own utility. Quite often the consumer will choose the commudity which has a lower price.
The rationality hypothesis has two basic assumptions:
1.      Completeness
Completeness means x,y,€ x, we have x ≥ y or y ≥ x or both. Any commudity is always preferred to its close subtitude. They are very different from each other it terms of characteristics. The consumer’s choice depends on the income and the taste of the same consumer.
2.      Transitivity
Transitivity is slightly different from completeness. It implies that is impossible to face the decision maker with a sequence of pairwise choics in which preferences appear tp be cyclical. Transitivity explains that consuming any goods will give equal satisfaction to the consumer. The concept will be clearer in the following assumption.

Reflexivity
Reflexivity means any commudity is as good as any other commudity. There is no difference in consumer satisfaction when any commodity is consumed.
Nonsatiation
Nonsatiation adds more characteristics of a good because it is preferred by the consumer. Each consumer expects something different from the earlier purchased commodity. Consumers regularly purchased commodities from the market and they have perfect knowledge of available commodities. Some consumers expect higher discounts in some purchased goods. In the modern world, such a discount is offered by all sellers. Most of people who visit such places go there to get commodities at bargain prices. But most economists have different opinions on the quality and quality of goods at such places, and at this point. It is the comsumer who decides what to purchase and what not to purchase.
Continuity
Consumers always try to switch to different commodities or to close substitutes. They get more satisfaction from consuming different commodities at lower prices. But other factors may make them worse off, such as changes in price, size, etc.
Strict Convexity
Strict convexity assumes that comsume preferences are related to two commodities. Given the feasible set is convex; the consumer’s optimal point will be a unique local point.

Surat Untuk Sahabat

Mesir, kota itu sering kau ucapkan, bahkan tulisan tanganmu akan kota itu kau jadikan pembatas di al-Qur'an mu, dengan harapan, mimpimu untuk dapat pergi kesana dapat terwujudkan disetiap ayat yang kau baca.
Satu tahun kau mendedikasikan hidupmu di Yogyakarta, di universitas yang sama denganku, aku tau kau, kau orang yang penuh dengan ambisi, kau orang paling asik ketika aku ajak berdiskusi, kau juga orang yang paling senang menikmati istimewanya kota Yogyakarta, bahkan kau pula yang tau siapa seseorang yang aku suka, hehe..
Aku bangga mempunyai teman sepertimu, aku bangga sudah mengenalmu lebih dekat. Mesir menunggumu sejak dulu, kau memang ditakdirkan untuk menempa ilmu dikota itu, kota yang terkenal dengan nahr nill, piramida nya, dan kota dimana Napoleon Bonaparte menemukan keimanannya. Kau harus berjanji, bahwa kau pergi ke Mesir untuk kembali, dan kembali untuk membangun Negeri sendiri. Bersama-sama, yah, bersama-sama kita bangun negeri kita. meski masih banyak mimpi-mimpi yang belum kita taklukkan bersama, tapi aku yakin, waktulah yang akan menjawab semuanya, kita hanya perlu berusaha dengan tekad kuat terhadap semua mimpi-mimpi kita.
Selamat berjuang teman.., dan satu lagi, sampai bertemu di Switzerland :-)

Sunday, July 6, 2014

Ramadhan Pertama di Jogja

Ramadhan 1435 H, Ramadhan pertama saya di Jogja, kota yang sangat istimewa, kota yang menjadi pilihan saya untuk menjadi kepingan puzzel kehidupan saya. 28 Juni 2014 saya memulai puasa pertama, dimana malam sebelumnya saya melaksanakan taraweh berjama'ah di Masjid Gede, Kauman. "Puasa itu.., sekolah tanpa ijazah, kuliah tanpa wisuda" itulah cuplikan kultum dari kyai yang mengisi ceramah sebelum shalat taraweh. Selesainya shalat taraweh, saya mendapat kesempatan dari Allah, untuk menjadi saksi langsung dua orang saudara yang akan masuk islam. Dua orang, satu laki-laki, dan satu lagi perempuan. Berawal dari agama katolik dan dengan sadar dan ikhlas melangkah masuk islam dan menjadi saudara kita. "Ketika saya bertemu islam kembali, saya merasakan lagi hawa kedamaian yang selama ini saya inginkan" kata yang laki-laki. "Karena menurut saya, islam lah agama yang paling logis" kata yang perempuan.

selamat datang saudariku, kalian tepat, kalian tidak salah pilih, semoga Allah memberkahi kita semua, kita sama-sama, saling ingat mengingatkan dalam kebaikan.

Sebagaimana halnya seorang mahasiswa, berbuka puasa dengan yang gratis, dimasjid aja, sekalian sholat taraweh berjamaah keliling masjid se-Yogjakarta. Saya pernah sholat taraweh disalah satu masjid penduduk di sebuah dusun di Jogja, alangkah kagetnya saya ketika mendengar ceramah agama sebelum shalat taraweh, berbahasa jawa, yaaah, namanya juga kota jawa, saya memaklumi itu, tapi saya lebih kaget lagi ketika sang imam memimpin sholat taraweh, semua bacaan berubah menjadi logat jawa, medok. *silahkan dibayangkan
Itulah mahasiswa, jikalau ada ta'jil sisa, akan diminta untuk makan saur keesokan harinya. Lucu memang, tapi saya yakin, setiap yang pernah menjadi mahasiswa merasakan hal yang sama, dan itulah yang menjadi moment unik menjadi seorang mahasiswa. Semua bukber saya ikuti, bukber lintas kota, sejauh apapun, pasti datang, selain agar dapat makanan gratis, sekalian juga menyambung tali silaturahmi. 

Saya menemukan inilah Ramadhan di Jogja, siang saya berpergian, jalanan sepi, layaknya Jogja berpenduduk sedikit, biasanya jika saya lama menstarter motor ketika lampu hijau menyala langsung ada mengklakson saya dari belakang, tapi siang itu tidak. Ketika sore datang menjelang, 20-10 menit menuju berbuka puasa, penduduk Jogja yang hilang itu seperti datang kembali entah darimana asalnya, jalanan menjadi padat tak terkira, macet dimana-mana, bahkan saking terjebak macetnya, saya pernah berbuka puasa dijalan dan beruntung saya membawa air minum untuk menyegrakan berbuka.

Itulah Ramadhan saya pertama di Jogja, sebenarnya banyak hal menarik yang terjadi didalamya, hanya saja saya susah mengungkapkannya dengan kata-kata. Terakhir, selamat berpuasa semua..

Thursday, June 26, 2014

Ramadhan Datang

Gak nyangka, ramadhan datang, udah persiapin apa aja yaa? ya Allah, semoga ini menjadi Ramadhan terbaik dihidup kita..

"Sang Pencerah" Movie Resume



‘Sang Pencerah’ is a movie created by Hanung Bramantyo. This movie based on a true story about Kyai Haji Ahmad Dahlan. The story begins when Darwis (Little Kid Name of Ahmad Dahlan) want to go to Makkah for study. At that time, he was 15 years old, still young. Abu Bakar (Ahmad Dahlan’s Father) gives his permission to Darwis to go to Makkah for study. Five years later, Darwis comes back to Yogyakarta. Darwis changes his name become Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan becomes so smart and clever, he also capable playing violin. Sometimes when he goes to Kauman Mosque, he looks at the compass, and how shocked he is, because the ‘kiblat’ or pray direction is wrong, not looked towards Ka’bah in Makkah, but looked towards Afrika. So to change it to look towards to Ka’bah in Makkah, it should shift to the right 23º from the first position. Ahmad Dahlan so struggle to assure everyone about it. Until Kyai Cholil Kamaludiningrat getting angrier and every one says that Ahmad Dahlan is Kafir. After his father dies, he becomes Kyai in Kauman Big Mosque substituting his father (Abu Bakar) on 1869. Ahmad Dahlan expert in playing violin, so he is reputed controversial. Ahmad Dahlan also accused kafir because he open a school that put his student in the Dutch modern school, Ahmad Dahlan also teaches islamic religion in Kweekschool or noble’s school in Jetis, Yogyakarta. Ahmad Dahlan also joined with Boedi Utomo on 1809.
 In this movie, we can look that Ahmad Dahlan very strong to maintain Islam in Indonesia, not only in the mosque as like as another Kyai, but also in education and Indonesia’s liberty movement (Boedi Utomo). So on 12 November 1902, Ahmad Dahlan makes a declaration that Muhammadiyah was born on that date. Muhammadiyah not a religion, there is no purpose in Muhammadiyah to spread self religion confidence. There are some quotes that I like from this movie. First is when Ahmad Dahlan’s student asks about religion? Then Ahmad Dahlan plays the violin and said that religion is beautiful, peaceful, tranquillity, bright and clear, because religion’s essence is such as a music. If we do not study carefully it, it will make fidgety around us and becomes an object of ridicule. Second is “Justification only from Allah, human just can endeavor (ikhtiar)”. Third is “Islam more and more far from itself (muslim), because they comprehend it in a superficial manner”. After I watch this movie, I say to myself, what have you do for Islam? Have you make any struggle as like as Ahmad Dahlan? It becomes my motivation for myself

Monday, June 23, 2014

Lembaga Filantropi Muhammadiyah Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah



Metode wawancara tidak hanya dilakukan secara langsung, tapi juga bisa secara tidak langsung, sebagai contoh adalah metode yang saya ambil sekarang, yaitu melalui telpon seluler. Melakukan wawancara tidak terstruktur ini tidak mempergunakan daftar pertanyaan yang dipersiapkan sebelumnya, sehingga saya dapat memberikan pertanyaan sesuai dengan keperluan yang sedang dihadapi pada saat wawancara, dan mengarahkannya pada fokus tulisan. Selama wawancara, selain menanyakan yang mengarah pada fokus, juga mengajukan pertanyaan bebas dan mendalam, dengan tujuan untuk memperdalam hal-hal yang dianggap penting. Pertanyaan yang digunakan sifatnya spontan pada saat wawancara berlangsung. Pertanyaan bebas ini  dilakukan, untuk dapat memperjelas hal-hal yang dianggap masih belum begitu jelas. Adapun subyek yang  diwawancarai dalam tulisan ini adalah Wakil Ketua Muhammadiyah Kabupaten Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

            Bapak Arliansyah, begitulah sapaan sehari-hari beliau, beliau menjabat sebagai Wakil Ketua Muhammadiyah selama tiga periode, sejak tahun 2000-2015, dimana sebelumnya beliau sudah aktif dalam pergerakan Muhammadiyah sejak remaja, menjadi Ketua Ikatan Pemuda Muhammadiyah, Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ketua Majlis Pendidikan, dan saat ini Wakil Ketua Muhammadiyah daerah. Sebelum berlanjut kedalam lembaga filantropi Muhammadiyah, saya akan menerangkan terlebih dahulu awal mula berdirinya Muhammadiyah di Kabupaten Pangkalan Bun. Muhammadiyah di Pangkalan Bun tidak lepas dari peran para aktivis-aktivis Muhammadiyah yang berasal dari Yogyakarta. Mereka datang dan bertemu penduduk, saat itu ada Abdul Muis (alm) dan Abdul Kadir (alm), dimana Muhammadiyah awalnya hanyalah bersifat perorangan saja, tapi karena mereka merasa memiliki visi misi yang sama, akhirnya pada tahun 1980 didirikanlah Organisasi Muhammadiyah secara resmi di Pangkalan Bun.
Tantangan terbesar saat awal berdirinya Muhammadiyah di Pangkalan Bun tidak jauh berbeda sebagaimana di daerah Kauman, Yogyakarta. Penduduk menganggap bahwa Muhammadiyah adalah ajaran sesat. Tahun 1995 Muhammadiyah mulai diterima baik oleh masyarakat dengan didirikannya lembaga pendidikan Muhammadiyah berupa SMP Muhammadiyah. Hanya saja, yang menjadi persoalan pada saat itu, walaupun sudah diterima, tetapi tantangan berasal dari dalam, dimana anggota-anggota Muhammadiyah masih bersifat abangan, hanya mengenal Muhammadiyah, tapi sikap dan amal ibadahnya tidak menunjukkan sebagai anggota Muhammadiyah.
Lembaga filantropi sendiri sebenarnya sudah ada sejak lama, hanya seja belum resmi berdiri. Sebelumnya resmi, lembaga filantropi Muhammadiyah hanya dilakukan dimasjid dan sebatas saat menjelang idul fitri saja. Tahun 2005-2010, lembaga ini resmi berdiri, seperti halnya lembaga filantropi Muhammadiyah lainnya, lembaga filantropi Muhammadiyah di Pangkalan Bun diberi nama LAZISMU (Lembaga Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah). Hanya saja pada periode itu, LAZISMU tidak terkoordinir dengan baik, belum profesional dan belum transfaran. Karena masih kekurangan petugas dan hanya ditangani langsung oleh pimpinan Muhammadiyah setempat. Sejak tahun 2010-sekarang, LAZISMU sudah terkoordinir dengan baik, perofesional dan transfaran. Bahkan LAZISMU Pangkalan Bun sudah menyediakan beasiswa untuk para anggota Muhammadiyah, baik anggota permanen, partisipan, kader, ataupun anggota biasa.
Organisasi Muhammadiyah di Pangkalan Bun lebih berkembang pesat dibandingkan didaerah-daerah lain di Provinsi Kalimantan Tengah, seperti Kotawaringin Timur, Lamandau, atau Sukamara. Kenapa? Karena kinerja SDM yang sudah sangat baik, mempunyai rasa memiliki terhadap Muhammadiyah, kompak, dan tersebar kebeberapa tempat didaerah Pangkalan Bun. Yang menjadi tantangan saat ini bagi Muhammadiyah daerah Pangkalan Bun (jika ingin dikatakan tantangan) adalah kursi pemerintahan, termasuk didalamnya Bupati daerah Pangkalan Bun, karena bupati bukan berasal dari Muhammadiyah, sehingga ketika pembagian APBD, Muhammadiyah hanya mendapat bagian porsi sedikit dibandingkan dengan Organisasi islam yang lain, padahal Muhammadiyah memiliki kegiatan lebih banyak dibandingkan Organisasi islam lainnya.

Ridder Orde Van Oranje Nassau



Ridder Orde Van Oranje is the appreciation title from Dutch Colonial means merit sign star for one of personage Muhammadiyah, he is Kyai Haji Hisyam. He was valued deserving well of Indonesia society in education development. In Kyai Haji Hisyam period, Muhammadiyah has so fast developing, in the end of 1932, Muhammadiyah has 103 Volkschool, 47 Standaardschool, 69 Hollands Inlandse School (HIS), and 25 Schakelschool, that is a five years school that will devotail to MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, equivalent with Junior High School today) from the student who graduate from Vervolgschool or Standaardschool class V. All that Muhammadiyah school use dutch language as the introduction language. Muhammadiyah school on that era being education institute for autochthonous that can compete with dutch school developing, Katolik, and Protestan school.
            Kyai Haji Hisyam was born in Kauman Yogyakarta on 10 November 1883 and died on 20 Mei 1945. Even he did not fell the liberty days on 17 Agustus 1945, he has many contribution for Indonesia freedom. He is the third leader of Muhammadiyah. He was chose and established as the leader of Muhammadiyah in the 23 Muhammadiyah congress at Yogyakarta 1934. He is one of K.H. Ahmad Dahlan direct student, and also prominent abdi dalem Ngayogyakarta Hadiningrat. On 1935, he was chose again as the leader of Muhammadiyah in the 24 Muhammadiyah congress at Banjarmasin. In the 25 Muhammadiyah congress at Batavia (Jakarta), he was chose again as the leader of Muhammadiyah. Just three times he taken hold of Muhammadiyah leader.
            In Kyai Haji Hisyam period, the orderliness of administration and management are good. He is more focuse in education and teaching developing, not only religion education but also public education such as in dutch school. It can be seen from his children education. Two his sons studied being a teacher, called a bevoegd and be a teacher in HIS Met de Qur’an Muhammadiyah Kudus and Yogyakarta. One of his son graduate from Hogere Kweekschool in Purworejo, and one his son graduate from Europese Kweekschool in Surabaya. Both of school were built by Dutch colonial government for the next teacher who will teach in HIS Gubernemen.
            In Kyai Haji Hisyam period, Muhammadiyah has open the elementary school three years (volkschool or vilage school) after manner of rules and regulations such as in volkschool gubernemen. After it, was open also Muhammadiyah vervolgschool as the continuance. That is the reason why after it many Muhammadiyah volkschool and vervolgschool in Indonesia, especially Jawa. When Dutch colonial government open standaardschool, that is six years school, Muhammadiyah also open a school like it to. Moreover, Muhammadiyah was build Muhammadiyah Hollands Inlandsche School Met de Qur’an for make a compete or effort as like as Katolik society that was built Hollands Inlandsche School Met de Bijbel.
            Kyai Haji Hisyam always thinks about how Muhammadiyah education not defeated from Dutch colonial government education. He thinks in order that autochthonous if want study not only must go to Dutch colonial government school, Indonesia also have school for study. Even it should fulfill many difficult rules and regulations, in the end Muhammadiyah school got confession and similarity from Dutch colonial government.
            In developing of Muhammadiyah education, Kyai Haji Hisyam make a cooperation with Dutch colonial government that Muhammadiyah prepared get financial assistance from Dutch colonial government, even the total just a little and not equal with government helping to Kristen schools at that time. From that case is the reason Kyai Haji Hasyim and Muhammadiyah get a poignant stricture from Taman Siswa and Syarikat Islam at that time leveled against non-cooperative politics. However, Kyai Haji Hisyam has a mind of own that government subsidy is the tax that was took from Indonesia society, especially Islam society. With that subsidy, Muhammadiyah can use it for develop Muhammadiyah education that in the end also can develop and brought up Indonesia. Accept that subsidy is better than refuse, because if that subsidy refusing, so that subsidy will be shift to the Dutch colonial government school and only make a strong Dutch colonialisme position.
            We can take the conclution and lesson from this Muhammadiyah personage. Kyai Haji Hisyam has an amazing dream and big effort to make Indonesia better, to make Indonesia did not defeated from Dutch colonial government. He focuses in one case, education. From that focus, he gets the appreciation from Dutch colonial government. He has a good knowladge in religion, religion is the pondation for any things in our life.